Mengenal Pendekatan “Audience Centric” di Social Media

Artikel ini terakhir di perbaharui July 17, 2022 by Dwinandha Legawa
Mengenal Pendekatan “Audience Centric” di Social Media

Social media yang dulu bukanlah yang sekarang. Ekspektasi pengguna social media semakin lama semakin bertambah, dan kita tidak bisa memuaskan mereka hanya dengan konten yang biasa-biasa saja. Bagaimana cara kita merangkul mereka di dunia sosmed yang seperti sekarang ini?

Landscape Social Media Dulu vs Sekarang

Khusus anda yang sudah ‘melek’ social media sejak jaman Friendster, Kaskus, dan Facebook, tentu tahu bagaimana rasanya bersosial media pada jaman dahulu.

Social media dulunya benar-benar hanya digunakan untuk ngalay-ngalay tanpa ada sentuhan “bisnis” di dalamnya. Bahkan Facebook di jaman tahun 2008-an juga begitu. Tidak ada brand atau entitas bisnis yang beraktivitas di social media. Bukan kenapa-kenapa, karena ya memang belum saatnya.

Fenomena ini sebenarnya juga sedang terjadi di dunia metaverse

Karena itu konten-konten jaman dulu terlihat lebih spontan, tanpa ada perencanaan apapun. Orang-orang di social media hanya update status untuk memberi tahu teman-teman mereka bagaimana kabar baru-baru ini.

Social media semakin berkembang

User social media tentu semakin lama semakin banyak, karena rantainya memang begitu. Orang melihat ada sebuah keseruan baru, lalu ingin ikut ke dalam keseruan itu. Apalagi dulunya social media menawarkan berbagai macam cara untuk ‘pamer’ (seperti bisa check ini di lokasi atau pamer stiker). Otomatis orang-orang akan berbondong-bondong datang untuk mencoba itu.

Sayangnya manusia selalu memiliki karakter tidak pernah puas dan cepat bosan

Orang-orang biasanya hanya hype sesaat lalu melupakannya. Dan tentu saja ini berlaku di dunia social media, dimana user mencintai suatu fitur atau konten dalam jangka waktu pendek, lalu kemudian benar-benar meninggalkannya 100%.

Kasus ini juga terjadi di social media terbaru, clubhouse

Fenomena ini membuat semua jenis layanan (termasuk social media) untuk terus beradaptasi pada keinginan pasar. Terlalu lama diam dalam stagnasi dapat membuat suatu platform dilupakan dan hancur seketika.

Kehadiran algoritma “interest based”

Mengingat karakteristik manusia tadi, social media pun dituntut untuk selalu berubah. Instagram salah satunya, memberikan update algoritma “interest-based”.

Instagram dulunya menampilkan konten berdasarkan dari jam update (dari postingan terbaru). Namun sejak tahun 2018-an, Instagram menampilkan feed berdasarkan dari ketertarikan yang terekam oleh algoritma. Sehingga, konten yang ditampilkan di feed user menjadi unik berdasarkan dari konten yang mereka sukai. Bahkan apabila mereka mengikuti akun yang sama!

Pengguna yang terus bertambah

Jumlah pengguna social media semakin tahun juga semakin bertambah.

Berdasarkan data dari backlinko.com, user social media pada tahun 2020 tercatat berjumlah 3.960 miliar akun, atau naik sekitar 13.7% dari tahun 2019 yang hanya 3.484 miliar akun. Tentu angka ini bukan angka yang sedikit, dan setiap orang tersebut haus akan cara ‘pamer’ yang baru.

Creator yang semakin kreatif

Dengan bertambahnya jumlah pengguna, tentu saja para pembuat konten dituntut untuk semakin kreatif. Dengan meningkatnya kreativitas, tentu variasi konten akan semakin banyak. Pengguna pun semakin mudah terkena distraksi dari format konten yang baru.

Contoh yang paling simpel adalah dunia meme. Tahun 2012-an, format meme benar-benar stagnan dan hanya itu-itu saja. Namun sekarang, hampir setiap minggu ada format meme baru.

Audience Centric, An Evergreen Solution

Tentunya sebagai bisnis, anda juga perlu beradaptasi dengan pengguna-pengguna tadi. Untuk bisa bertahan di dunia yang serba dinamis, anda perlu untuk memberikan konten yang bisa selalu disukai. Dari sinilah instilah “audience centric” muncul.

Apa itu audience centric?

Audience centric merupakan istilah untuk konten yang dibuat untuk audience atau untuk pengguna. Ingat, orang yang melihat konten anda bukanlah anda. Tapi pengguna yang menyukai bagaimana anda bekerja. Karena itu, sudah seharusnya konten yang dibuat harus memenuhi keinginan mereka, bukan keinginan anda.

Contoh case

Bayangkan anda memiliki bisnis yang bergerak di bidang jual beli elektronik. Apabila konten anda hanya berputar-putar di:

  • Harga elektronik yang anda jual
  • Pengertian-pengertian umum dari dunia elektronik
  • Visi, misi, dan identitas perusahaan

Orang-orang akan malas melihat dan mengikuti apa yang anda bahas. Karena apa? Bukan karena bisnis anda jelek, tapi memang konten-konten seperti itu sudah banyak bertebaran di dunia sana. Istilahnya, anda hanya menggarami laut saja dengan konten-konten tadi. Dan tentunya, anda tidak bisa memaksa audience untuk suka dengan konten yang generik.

Nah, sekarang coba kita ganti dengan contoh ini:

  • Video review singkat keunggulan spesifik laptop
  • Storytelling dari alasan mengapa harga laptop berbeda

Kedua konten di atas merupakan contoh bagaimana konten audience centric dibuat. Ya, keduanya dibuat berdasarkan dari rasa keingintahuan audience. Anda bisa meningkatkan kualitasnya dengan menambahkan elemen emosi, seperti:

  • Drama yang melibatkan laptop
  • Keseharian pengguna laptop
  • Ketakutan utama pengguna laptop

Emosi merupakan kunci utama audience centric

Anda tentu melihat perbedaannya bukan?

Dari konten yang “brand based” menjadi “audience based” dan kemudian menjadi “audience centric”?

Ya memang menggunakan sudut pandang audience saja tidak cukup, anda perlu menambahkan emosi dalam konten anda. Sehingga audience bisa merasakan ‘pain’ yang sama (atau bahasa gen-z nya… “lebih relate”)

Singkatnya, konten audience centric adalah konten yang dibuat berdasarkan dari kebutuhan audience + penambahan sisi emosional di dalamnya

Apakah Social Media Anda Sudah “Audience Centric”?

Pertanyaan kembali lagi ke anda, bagaimana dengan konten-konten yang sudah anda terbitkan di social media? Apakah sudah audience centric? Atau masih narsis? Kalau masih narsis, jangan harap akun anda akan bertahan lama. Mempertahankan platform media sosial saja sudah sulit, kita sebaiknya jangan nambah masalah dengan menerbitkan konten yang tidak berkualitas di sana.

Dwinandha Legawa
Digital Marketer focused on Digital Ads since 2019 and He has continuously spread awareness about how Digital Advertising should work for everyone's businesses, also loved to debunk misleading myths, which specialized in Facebook and Google Ads.