Mengapa Orang Jepang Workaholic?

Artikel ini terakhir di perbaharui June 3, 2021 by Yoko Widito
Mengapa Orang Jepang Workaholic?

Orang-orang Jepang dikenal sebagai orang-orang yang gila kerja, atau workaholic. Mereka bekerja sejak pagi sampai larut malam. Bahkan banyak yang tak kenal cuti atau libur. Mereka tetap bekerja di akhir pekan. Kenapa begitu?
Ada berbagai sebab. Pertama, hasil pendidikan lingkungan. Bagi orang Jepang bekerja itu kehormatan. Hal itu ditanamkan sejak mereka masih kecil. Keadaan itu tercermin dari berbagai kosa kata yang mereka gunakan. Misalnya kata “ganbaru”. Kata ini bermakna bekerja keras, mengeluarkan segenap kemampuan untuk suatu tujuan. Sejak anak berusia balita ibunya sudah biasa memperdengarkan kata ini. Misalnya, terhadap anak kecil yang sedang belajar berjalan, ibunya akan menyemangati dengan mengatakan “ganbatte…ganbatte” yang merupakan bentuk perintah dari kata “ganbaru” tadi.

Ada begitu banyak kosa kata yang mencerminkan makna kerja keras dan disiplin yang dipakai dalam percakapan sehari-hari, seperti “shikkari”, “chanto”, dan sebagainya. Dari kata-kata itu orang-orang seperti terindoktrinasi sejak usia dini, bahwa mereka harus bekerja keras.

Di sekolah, kemudian di kampus, iklim yang sama dipelihara. Demikian pula saat seseorang masuk ke dunia kerja. Kerja keras menjadi nilai yang membuat dia merasa cacat kalau tidak memilikinya.
Itu semua ditambah lagi dengan tuntutan sistem. Sistem kerja tidak memberi ruang bagi seseorang untuk santai atau bermalas-malasan. Atasan dan lingkungan selalu menuntut hasil. Selalu menuntut agar pekerjaan diselesaikan. Juga tuntutan agar target tercapai.

Tentu saja itu diiringi dengan imbalan yang memadai. Perusahaan-perusahaan di Jepang memberi bonus dalam jumlah yang tidak kecil. Bonus diberikan 2 kali setahun, yaitu musim panas dan musim dingin. Perusahaan yang kinerjanya biasa saja, atau lembaga pemerintah, bisa memberi bonus 2 bulan gaji, sebanyak 2 kali. Artinya, bagi orang Jepang menerima gaji sebanyak 16-18 bulan per tahun itu adalah hal yang biasa. Dengan adanya bonus itu orang-orang termotivasi untuk kerja keras.

Sebab lain, mereka biasa bekerja dengan tertib dan teratur. Data direkam dan disimpan dengan baik. Semua dokumen sudah tertentu formatnya. Setiap kali rapat dokumen harus lengkap. Ditambah lagi, atasan harus memeriksa dokumen yang disiapkan oleh bawahannya dengan teliti.

Sejak saya mulai berinteraksi dengan orang Jepang 25 tahun yang lalu, kesan saya mereka membuat catatan terlalu banyak. Juga membuat sangat banyak dokumen. Itu membuat volume pekerjaan mereka bertambah. Otomatis mereka butuh lebih banyak waktu untuk mengerjakannya. Untuk bisa mengerjakan semua, mau tak mau mereka harus bekerja ekstra.

Workaholic tidak selalu terjadi karena yang bersangkutan menyukai apa yang ia lakukan itu. Tidak sedikit yang bekerja karena tekanan. Banyak orang Jepang bekerja berlebihan, dari sisi waktu, tenaga fisik, dan pikiran. Akibatnya terjadilah kelelahan berlebihan akibat kerja yang terlalu keras itu. Tidak sedikit yang berujung pada kematian. Dalam bahasa Jepang kasus itu disebut “karoshi”.

Hasanudin Abdurakhman
Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Fisika FMIPA UGM, kemudian melanjutkan studi di bidang Applied Physics di Tohoku University hingga selesai studi Doktoral. Meniti karir sebagai peneliti di Kumamoto University dan Tohoku University. Saat ini berkarir sebagai eksekutif perusahaan Jepang di Jakarta selama 13 tahun terakhir.