Coach vs Pemain: Cerita Duncan Clark Menolak Saham Alibaba

Artikel ini terakhir di perbaharui November 12, 2020 by Yoko Widito
Coach vs Pemain: Cerita Duncan Clark Menolak Saham Alibaba

Duncan Clark adalah penulis buku “Alibaba, The House that Jack Ma Built”. Ia bukan sekadar seorang penulis. Ia adalah konsultan kawakan untuk bisnis internet. Ia mendampingi Alibaba di masa-masa awal pendiriannya. Sebagai imbalan atas jasa konsultasi itu, Clark ditawari beberapa ribu lembar saham Alibaba, yang waktu itu harganya masih 30 sen. Clark menolak pebayaran dengan saham itu, dan lebih memilih pembayaran konvensional. Kelak, ketika Alibaba sukses besar, saham sejumlah yang ditawarkan kepadanya itu bernilai 30 juta dolar.

Sebagai seorang konsultan kawakan, Clark memberikan masukan-masukan yang mengokohkan fondasi awal Alibaba. Ia melihat Alibaba yang masih berwujud start up pemula, berkantor di sebuah apartemen. Ia menghitung jumlah co-founder melalui jumlah sikat gigi yang ada dalam sebuah mug di kamar mandi di apartemen itu. Warga negara Inggris itu datang ke Cina tahun 1994 sebagai konsultan bisnis perbankan, belajar bahasa Mandarin, dan tinggal di sana selama 20 tahun. Ia adalah spesialis dalam bisnis telekomunikasi. Dengan pengalamannya itu ia bisa melihat apa dan bagaimana Alibaba sejak perusahaan itu masih kecil, dan bisa menghitung potensinya. Tapi kenapa ia tidak berani mengambil saham yang ditawarkan itu?

Meski kita tak tahu persis apa yang membuat Duncan Clark menolak saham Alibaba itu, kita bisa memaknainya dalam konteks hubungan coach dan pemain. Dalam lakon Alibaba ini Duncan Clark bukan pemain. Pemainnya adalah Jack Ma. Duncan Clark dapatlah kita sebut sebagai coach.

duncan clark

Apa peran seorang coach? Ia tentu saja ahli dalam permainan yang ia latihkan. Tapi tetap saja, da bukan pemain. Pemain mungkin saja bukan ahli. Ia masih belajar, dan meraba-raba. Karena itu ia butuh nasihat dari coach. Tapi seorang pemain punya 2 hal penting, yaitu keyakinan dan kontrol.

Modal utama seorang pebisnis adalah yakin, bahwa ia akan berhasil membangun bisnisnya. Keyakinan ini tidak selalu disertai dengan data atau teori pendukung, setidaknya pada saat awalnya. Keyakinan itu adalah kombinasi antara impian, keinginan, dan tekad untuk menjadikannya nyata. Modal keduanya adalah bahwa ia memegang kontrol, baik dalam hal eksekusi maupun kontrol terhadap hasil yang didapat. Tanpa kontrol terhadap eksekusi, keyakinan pebisnis tidak ada maknanya.

Ketika Alibaba mulai tumbuh ke suatu level, di mana sudah ada investor besar yang meliriknya dan menanamkan modal, lalu siap melakukan IPO, Alibaba bukan lagi start up yang berkantor di apartemen yang disaksikan Clark pada masa awal tadi. Alibaba sebenarnya sudah siap menjadi raksasa. Tapi bahkan seorang Clark pun tidak bisa memastikan hal itu, karena dia bukan pemain. Yang memastikannya adalah Jack Ma, sang pemain.

Clark dengan segenap pengetahuan dan pengalamannya bisa menghitung peluang Alibaba untuk sukses. Tapi perhitungan bisnis bagaimana pun adalah perhitungan teoretis. Perhitungan bisnis sangat kompleks, karena ada begitu banyak faktor yang tidak bisa dipastikan di atas kertas. Karenanya, hasil perhitungan bisnis adalah probabilitas belaka. Maka bagi Clark Alibaba saat itu hanyalah sebuah probabilitas. Ia memilih yang pasti saja, yaitu pembayaran tunai.

Alibaba The House that Jack Ma built Duncan Clark

Bagi Jack Ma, Alibaba adalah segalanya. Investor besar pertama yang menamamkan modal di Alibaba adalah Goldman Sach, yang bernegosiasi melalui Sherly Lin, pegawai perusahaan investasi itu. Hasil negosiasi, Goldman Sach membeli 50% saham Alibaba dengan nilai 5 juta dolar. Bagi Jack Ma itu suntikan tenaga yang luar biasa besar. Tapi di sisi lain ia merasa sangat khawatir. Pembelian saham itu bisa membuat ia kehilangan kendali atas Alibaba. Setelah ada pernyataan kesediaan investasi, Jack menelepon Sherly Lin, meminta agar ia tetap memegang kendali penuh. Hasilnya, disepakati bahwa Goldman hanya punya hak veto atas keputusan-keputusan kunci saja. Jack Ma tetap mengendalikan Alibaba sepenuhnya.

Pebisnis butuh modal dari investor. Ia juga butuh nasihat dari pakar. Tapi yang menjalankan bisnis adalah dirinya sendiri. Yang merumuskan dan mengeksekusi strategi adalah dia sendiri. Yang mengoreksi, kemudian membuat formulasi ulang, kalau strategi tadi tidak berhasil, adalah dia juga. Yang bertanggung jawab atas keputusan-keputusan strategis itu juga dia.

Dalam hal itu seorang pebisnis berbeda posisinya dengan penasihat atau konsultan. Ia tidak berpikir soal probabilitas. Ia berpikir soal bagaimana mewujudkan sesuatu menjadi nyata. Tentu saja ia tidak hanya berpikir. Ia bertindak.Ia mengeksekusi. Ia mengontrol agar hasil eksekusi itu sesuai dengan harapan dan rencananya.
Jack Ma kemudian membuktikan bahwa nilai saham-saham tadi melonjak tinggi, hingga mencapai 30 juta dolar. Ia berbuat untuk memastikan itu terjadi.

Jadi, bagi pebisnis pada akhirnya 2 hal itulah yang penting. Kalkulasi orang lain boleh saja mengecilkan atau meremehkan rencana bisnisnya. Tapi berbekal keyakinan dan kontrol, seorang pebisnis bisa menjungkirbalikkan analisis pakar sekali pun.

Hasanudin Abdurakhman
Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Fisika FMIPA UGM, kemudian melanjutkan studi di bidang Applied Physics di Tohoku University hingga selesai studi Doktoral. Meniti karir sebagai peneliti di Kumamoto University dan Tohoku University. Saat ini berkarir sebagai eksekutif perusahaan Jepang di Jakarta selama 13 tahun terakhir.